Ketika aku terlalu jauh meninggalkan langkah gontaimu
lempar
saja aku, tak apa
dgn bebatuan kecil yang tak menyakitkan
aku
kemudian akan menunggumu
bahkan jika engkau mau
aku
menggandengmu dan berjalan bersama dari titik awal
ketika
kaki sebelahmu terseok
topanglah tubuhmu, jangan hiraukan walau
kedua kakiku mati rasa
walau hnya bs menggeser sedikit pasir
jalanan ini
akan kulakukan
ketika matamu memanas,
dan air bening itu menetes
pakai saja telapak ini
jgn
hiraukan luka sayatan segar atau aduhan yang kututupi
saat
sesak di dadamu
dan tiba-tiba udara di dunia ini hrus dibeli
pakai
saja uangku
aku bisa menahan napas untuk beberapa...
menit
mungkin
asal bisa kulihat senyum lega saat penjual udara itu
bilang.."ini udaramu"
ketika wajahku membuat pola yang tak
baik menurutmu
katakan sesuatu
agar aku tak buta terlalu
lama
membiarkan kita sama-sama bertopeng
saat tawamu
tak lagi berada disana (aku menunjuk, ah tidak..menjempoli tanganmu
(?))
akan kubuat dunia ini melawak
dan jika menurutmu, badut
itu lucu
aku bisa jadi dia
asal tak kau katakan kalau
koruptor itu lucu
narasi ini mungkin terlalu muluk
atau
aku dikatakan sahabat yang terlalu tidak sempurna
untuk sekedar
menulis satu baris makna
atau aku hanya orang yg sekedar bicara
tp
smoga
tak salah
karena ajaibnya persahabatan dan persaudaraan
jauh
lebih mencengangkan
dibandingkan ocehan yang terkamuflase ini
dan
aku
dan keterbatasanku
dan ketidak-baikanku
dan
ketidak-kuatanku
dan ketidak-ingatanku
dan ketidak-wajaranku
juga
topengku...
berharap tercatat di satu lembar hidupmu
di
sini.
dan berlembar-lembar lagi
di hari yang tak ada
kesedihan di dalamnya. Rendy 7 november 2010


Pontianak Time